Jumat, 18 Mei 2018

tentang Elena

semalam, seorang teman membagi link tentang cerita bersambung berjudul Elena. Dimuat di laman FB mbak Elly secara kontinyu dari part 1 sampai berakhir di part 23 dengan menyisakan tanda tanya di benak pembacanya. Sungguh aku ikut ter-elena-sisasi, gimana gak, aku habiskan 2jam di tengah malam dengan backsound dengkuran suami di sampingku sambil sesekali mengelap mata yang mendadak basah dan hidung yang terasa sesak.
Sudah lama aku menolak membaca novel atau cerita islami. Aku sering merasa ceritanya terlalu jauh dari nyata, too good to be true. Rasa ini aku dapati menguat bertahun-tahun ini setelah membaca novel-novel Habiburahman el-shirazi yang kala itu tenar dengan Ayat-Ayat Cinta. Cara penokohannya terlalu hitam putih, alurnya mudah ditebak dan kurang nakal menurutku. Maka aku beralih menekuni karya Dee.
Membaca Aroma Karsa, karya mutakhir Dee itu, aku terkagum-kagum tak berkesudahan dan menobatkan Dee sebagai penulis dengan hasil riset terbaik. Sungguh imajinasi dan ilmu-ilmu baru berhamburan dari tiap lembaran bukunya. Satu sisi keriangan itu justru membawaku pada kehampaan. Rasa syukur akan hidup memang muncul di permukaan, tapi gerak lakunya seolah hanya menurutkan logika dan rasio semata. Karya yang berhenti saat halaman terakhir selesai terbaca. Apalagi? Lalu aku harus bagaimana? Sudah, sudah selesai ceritanya, mari simpan bukumu dan lanjutkan hidup
Hingga akhirnya semalam aku berkenalan dengan Elena. Ceritanya cukup complicated, tokoh, kehidupan dan hubungannya cukup menarik. Tidak semata hitam putih seperti cerita islami lain. Selipan penggalan ayat Quran dan hadist manis sekali berbaur. Terasa bukan untuk menggurui, tapi muncul dari pemahaman perjalanan Elena belajar hijrah. Aku terpesona banyak kalimat yang diam-diam memaksaku berhenti sejenak untuk memahaminya. Quotes keren muncul dalam pikiran dan dialog dengan halus tak berjarak.
Ah, benar aku ter-elena-sisasi!
Aku tak sabar menunggu novelnya terbit untuk menggenapi tanda tanya tentang kabar Elena. Juga untuk selalu menjadi pengingat, bahwa menulis adalah memberi dampak. Bukan semata enak dibaca dan membuat penasaran, tapi bagaiman pembaca akan menginterpretasikan bacaannya dan melakukan perubahan. Bukan berhenti di lembaran terakhir untuk kemudian disimpan di rak, tapi untuk membuka lembaran rencana baru akan langkah yang berbeda dan menuju perbaikan.
Berat memang, mungkin kita harus bekerjsama, Dilan. Tapi yakinlah, dengan belajar menulis dengan baik, misi itu tak lagi susah diraih.
YAWP!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Konmari methods (part 1)

Kemarin siang pak sugan a.k.a suami ganteng (ahahaha) bilang "besok kita rapiin kamar yuk.  Tempat tidur geser ke pojok sana,  lemari t...